Senin, 28 Januari 2008

Siang itu. Aku atau Kamu yang Bingung??

Malam itu tak ada pilihan. Bumi Berantakan-nya Frantz Fanon buat kening berkerut. Tertatih mendaras kata per kata. Ada jeda beberapa kali. Jempol berulang memijit kening, naik-turun. Ada jeda sekali. Pesan masuk ke handphone, dikirim seorang teman. ”U know why do God makes spaces between our fingers Coz someday, some1 will sent 4 us 2 cover those empty spaces by holding our hands forever…”. Malam beri juga saya waktu buat tersenyum.
Pening masih berkitar di kepala. Garis hitam menoreh kantung mata bagian bawah. Secangkir kopi dan sebatang sigaret saya bawa ke lantai atas. Ibu duluan di sana. Centang perenang kami ngobrol. Berbagi asbak, dikibari kepulan asap sigaret merek yang sama. Dia sedang kesal dengan adiknya.
Agak terlambat saya baca pesan pertama hari itu. ”AbsoluTely kkks..tgl telf gw ajah..mw dmn? Jam brapa?” 23.01.2008, 07:32. +62817901xxxx. Jam sepuluh lewat beberapa menit. Angkat telepon sampai redial tiga kali. Tak ada respon.
Ada janji yang harus ditepati. Hari ini, dengan beberapa teman kosan, saya akan liburan ke Jogja. Berangkat dari Jatinangor.
Bus kota lenggang. Saya harus maklum. Sesiang ini sopir masih juga malas memacu gas. Sigh, baru beranjak 500 meter bus berhenti lagi. Dua pemuda naik, satu membawa gitar, mulai memetik. Temannya bernyanyi dengan suara yang tak bakal lolos kontes vokal paling amatir sekalipun.
Malam ini kusendiri, tak ada yang menemani. Seperti malam-malam yang sudah-sudah (The Rock, Munajat Cinta).
Lima menit sudah. Bus bergerak lamat. Dikejar seorang perempuan berkaus hitam. Kaki kananya menjejak kukuh di aspal. Hupp, kaki kirinya berayun. Coba memijak lantai bus. Tangan kiri meraih pegangan besi di pintu bus. Tubuh gempalnya berayun, menyesuaikan laju bus. Rambut panjangnya tertiup angin. Tak lama, dia duduk di kiri saya. Memangku ukulele kecoklatan penuh stiker, di paha. Kami berdua saja di jejer bangku paling belakang.
Pengamen masuk lagu kedua, ganti lagu ketiga. Selesai hitung uang dalam gelas aqua, penyanyi turun. Gitaris tak turut. Duduk di pojokan, samping kiri si perempuan. Berdekatan. Rebah kepala si perempuan di bahu gitaris jalanan. Diembus semilir angin. Matanya menyipit, terus mengatup. Entah apa di kepalanya. Mungkin benak merdu bersenandung.
Kuberikan padamu setangkai kembang pete. Tanda cinta abadi, namun kere.. Cinta kita cinta jalanan yang sombong menghadang keadaan. Semoga hidup kita bahagia. Semoga hidup kita sejahtera..(Kembang Pete, Iwan Fals)
Ahh, saya tersenyum cemburu. Manis sekali laku kalian. Huff, ingat omongan teman perempuan saya di telepon, beberapa menit lalu. ”Aduh, jangan sekarang. Gw baru bangun, rambut gw juga lagi jelek. Belum ke salon.”
Di sebuah pertokoan saya turun. Cari ATM, lalu naik ke lantai paling atas, tempat sebuah toko buku. Beberapa pasang pemuda berkasihan saya dapati. Masih berbaju seragam, hilir-mudik.
Murung raut penjaga toko berpadu bising mesin permainan yang lapar koin logam. Minyak goreng naik sudara-sudara! Harga bawang tidak wajar. Antrean minyak tanah tak bosan disiarkan. Toko sepi, banyak yang tutup. Bahkan elevator enggan melaju. Under-consumsption, over-production, kapitalisme lagi jenuh!
Pukul dua saya beringsut keluar dengan sebuah buku dalam genggaman, Metodologi Sejarah. Saya buka-buka. Baca selintas sambil pesan kopi di sebuah warung pinggir jalan bilangan Plaza Pangrango, Bogor. Gerimis turun, sementara matahari masih nanar. Hujan poyan, kata orang Sunda. Hangat-hangat tahi ayam.
Langit sedang bimbang, menurut saya. Setengah jam. Buku mulai tak menarik. Warung kopi senyap ditinggal tiga pemuda langganan. Mereka sebut mami, ibu penjual kopi. Dia terima dengan syarat: maminya bukan mami nakal.
Merantau dari Aceh beliau. Paruh baya berkulit putih, berkacamata. Tiga anak satu suami. Jualan sampai pukul enam tiap hari. ”Takut jadi tempat macem-macem kalau buka sampe malem, dek” ujarnya sambil menyalakan sigaret yang bikin ingat ibu saya. Paras si penjual kopi mirip ibu kapitalis penjual makanan di kantin FIKOM.
”Wah, CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) atuh,” selorohnya waktu tahu saya menunggu seorang teman lama berjenis kelamin perempuan.
Mami yang menyenangkan. Dia temani saya ngobrol. Dari harga minyak sampai susahnya cari kerjaan. Tak ketingalan, cinta-menyinta.
”Ah, ayeuna mah tampang lain jaminan. Tah, tadi si Anto (salah seorang pemuda yang sebut si ibu mami). Kurang kasep naon? Eh ditinggal kawin ku kabogohna, (ah, sekarang mah muka bukan jaminan. Tuh, si Anto kurang ganteng apa? Eh, ditinggal kawin pacarnya),” yakin betul dia dengan argumennya.
”Beunghar oge. Tos dibeulikeun imah ku indungna. 170 juta. Dibere sepre sagala, kabogohna (kaya juga. Sudah dibelikan rumah sama ibunya. 170 juta. Pacarnya, dikasih seprai segala),” tanpa ragu dia bantah pendapat saya.
Anto bukan pemuda miskin yang layak ditinggalkan. Andai mami masih gadis belasan tahun, tanpa ragu dia dekati Anto. Sayang pula anak perempuannya sudah punya jodoh. “Kerja di Bali, manajer. Kemarin anak mami baru dari sana,” semangat betul dia cerita.
Hujan menyisakan aspal basah. Suzuki Swift hitam melenggang mulus.
“Keterusan. Lu balik arah aja. Gw di samping optik seis,” negosiasi usai dan telepon ditutup. Saya kalah. Mengalah. Jalan memutar pertokoan. Menuju mobil teman saya.
“Jangan sekarang ya. Gw mesti jemput adik gw jam setengah lima, les vokal di Purwacaraka. Lagi jerawatan juga, nggak bagus kalau difoto. Makan aja yuk, laper nih,” dia melajukan mobil ke sebuah tempat makan daerah Palayu, Bogor.
“Lu ngerokok berapa banyak sih?” parfum mobil kalah dashyat dengan aroma asap yang melekati tubuh saya. Saya salahkan dia. Menunggu bikin mulut saya tak lelah beradu dengan tembakau.
Mobil baru. Terakhir dia antar saya ke terminal dengan Ford Escape warna coklat muda. Ada LCD TV 15 inch lengkap dengan pemutar keping DVD di dalamnya. Rikuh, belum pernah naik mobil semewah itu. Habis kata-kata dilumat rasa minder.
Sekarang tidak. Masih sanggup lidah saya melawan kelu. Al-Quran kecil dengan sampul keemasan, satu-satunya barang yang menarik perhatian saya. Diletakkan di rak paling bawah, depan tuas gigi otomatis.
“Kayaknya gw pernah kenalan deh, al. Temennya Bolo,” setengah berbisik dia mengomentari teman SMA saya yang berada di seberang meja makan kami. ”Itu pacarnya, ya?”
Saya ambil inisiatif, agak berteriak ”wit (Wita, Meiswita, nama teman SMA saya), temen gw nanya itu cowok lu, bukan?” teman perempuan saya protes, merasa dipermalukan. ”Ah, rese lu, nggak mau jalan sama lu lagi, gw”.
”Gabung yuk,” pria berbadan besar di samping Wita mengajukan tawaran. Saya menoleh. Tak bicara apa-apa, tapi coba cari jawaban. Yang dilirik mengeleng keras, sambil tunduk tersipu.
Ganti saya tersudut, kami tersudut. Diam, tak mau saling melihat waktu Wita bertanya sambil tersenyum pada kami, ”cewek lu, al?”.
Saya jawab, dia menyahut, kami berdebat. ”Bukan”, saya mencoba meluruskan. ”Pembantu gw”, dia tak mau kalah. ”Lu, sopir gw. Kan lu yang dari tadi nyetir..hehe,” dia diam. Bingung cari jawaban.
Sejujurnya. Saya lebih bingung daripada kamu, nona..
Jogja, 28 Januari 2008

Jumat, 21 Desember 2007

Dari Ladang Derita, Dia Petik Buah Manis Kebahagiaan

Sendal pijat dari kayu dengan tonjolan-tonjolan seperti barisan kapsul sebesar ibu jari, melayang. Berhenti dan jatuh di lantai setelah beradu dengan tembok kamar. Sedetik lalu melayang persis di samping kaki saya yang reflek melompat. Putaran tangannya, tangan ibu saya, masih hebat seperti ketika menyabet berbagai piala kejuaraan badminton, tenis meja, dan voli saat perayaan HUT RI beberapa tahun lalu. Ketepatannya belum berkurang, karena dia masih senang berlatih. Hanya saja, siang itu, saya bukan lawan yang ingin dikalahkannya dengan smash-smash tajam. Saya hanya anak nakal yang membuat kesal hati ibunya. Tubuh kecil saya bergetar setelah bunyi dakk akibat benturan sendal dengan tembok, ibu melengang pergi ke luar kamar. Meninggalkan sendal yang luput.

Lemparan itu menghilang ketika saya beranjak besar. Mengakrabi dunia coba-coba anak SMP. Bolos, merokok, alkohol Ibu tak pernah tahu kecuali hal yang pertama. “Aal, biar papa yang ngurus, mama udah nggak sanggup lagi,” intonasinya sama seperti tahun-tahun yang lalu. Kelopak mata saya basah, sesal tertunda menitik, air mata yang tak pernah ke luar saat lemparan barang luput atau tamparan keras memerahkan pipi saya. Malam itu saya memilih dilempar atau ditampar saja, jangan keluar kalimat itu dari mulutmu, ibu.

Dua puluh satu tahun lalu. Seorang perempuan dengan janin berusia sembilan bulan, jatuh dari becak. Kepalanya membentur bemper belakang truk. Beberapa jam kemudian sejarah tercatat: dari empat kali kelahiran, kali ini yang paling lama dan menyulitkan.

Tak pernah terpikir di otaknya, betapa sulit melahirakan dan membesarkan anak. Sepertinya lebih sulit dari tahun-tahun perjuangan beliau saat ditinggal ibu yang meninggal dan bapak yang dibui akibat tragedi politik paling kejam di Indonesia. Dia hidup bersama ibu tiri. Sampai dua puluh tahun kemudian bapaknya dibebaskan dengan tanda ET di Kartu Tanda Penduduk.

Pagi sebelum berangkat sekolah, nasi harus sudah masak. Sebuah sepeda tua dikayuh, menyusuri jalanan Jogja menuju sekolah tanpa sepeserpun uang saku. Kadang roda berhenti di sebuah kuburan Cina. Perempuan itu tertidur setelah sehari kemarin pekerjaan begitu berat. Mengaduk puluhan loyang kue, mencuci baju sendiri, membeli baju lalu menjualnya lagi.

Ya, sejak lama ibu berjualan pakaian. Karir yang sudah dirintisnya sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Umur dua belas, Surabaya dia datangi bersama adik lelaki yang umurnya masih enam tahun dan sekarung pakaian dari Ps. Beringharjo. Tak ada alamat lengkap, hanya petunjuk lisan menempel di ingatan. Modal yang kemudian digunakannya saat jadi kurir ke Jakarta.

Orang-orang Ps. Beringharjo, seperti juga pedagang Mester dan Tanah Abang, sudah pada tahu. Perempuan itu masih jualan baju sampai sekarang, untuk biaya sekolah empat anaknya.

Jadi penjaga karcis PJKA pernah juga dia jalani. Tak bisa dia jadi pegawai kantoran, cuma tamat SMA dengan angka merah berjejer di ijazah dan rapor. Ya, dia senang tidur di kuburan cina saat jam pelajaran.

Kesehatannya jauh menurun, dibandingkan ketika muda dulu. Ibu masih keras kepala jika diminta jangan bekerja terlalu berat. Semangatnya tak pernah mengkerut meski uban satu-satu memenuhi rambut. Dan kerut di wajahnya semakin nampak, aah saya ingat janji membelikannya Oil of Ulan jika dapat gaji pertama. Kerut-kerut yang nampak indah jika semua anaknya berkumpul saat liburan.

Dia tak pernah melempar sendal pada adik saya. Sesekali saja saya lihat air mata menitik membasahi pipi dan mukenanya di dua pertiga malam. Kepalanya menyandar di tembok, suara lirih, dan terbata. Di doa ibu kudengar ada namaku disebut.

Bogor, 21 Desember 2007

Senin, 17 Desember 2007

Cintaku, Cinta KOnser

Jakarta memang neraka, saya benar-benar merasakannya kali ini. Hari itu, minggu, lazimnya orang-orang ibukota pelesir ke Puncak Bogor atau Bandung sana, dan saya yang besar di Bogor lalu kuliah di Bandung bisa melengang mulus di jalanan Jakarta tanpa terganggu oleh kemacetan yang sudah rutin disini ketika hari kerja. Kenyataannya tidak begitu.


Mobil meninggalkan daerah Pancoran menyusuri jalan tidak seberapa lebar, menuju ke daerah mana saya lupa. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul tiga dan matahari masih galak seperti jam 12 tidak pernah beranjak sedetikpun. Saya membuka kaus tipis yang apek karena dicumbui keringat.


Bertelanjang dada saya mengiringi Candil bersenandung, “kapan ku punya pacar, kapan ku punya pacar,” dan drakk. Benjolan aspal membuat bergetar pemutar compact disc Pioneer abu-abu 12 cd yang dipasang di bawah laci mobil sebelah kiri. Lagu berhenti diganti nada timur tengah mengalun tanda pesan singkat masuk ke Siemens saya.


Haduh knp dbliiin?yawda nanti gw gantiin ya say..jgn marah ya say.”


gw g btuh uang lu. Jrang2 gw maen k Jkt,qta kan udh lma g ktemu.Tpi,klw mang g bsa g ush gnti duitny,gw g smiskin itu,non..hehe” tombol send ditekan.


Faktanya, saya belum punya tiket. Taktik saja, supaya teman saya itu mau menemani saya nonton acara musik Jazz yang rutin diselenggarakan setahun sekali oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Saya penggila reggae dan tak begitu menikmati Jazz. Tapi, saya penikmat musik, apapun genrenya. Di Indonesia pagelaran Jazz yang tiketnya dihargai puluhan ribu cuma ada sekali setahun, Jazz Goes to Campus. Itu yang membuat saya mau jauh-jauh ke Jakarta cuma untuk nonton sebuah konser musik.


Langit sudah ramah. Tidak panas tidak pula hujan. Mobil bergerak lagi, tanpa nyala air conditioner kali ini, karena jarum penanda bensin sudah sampai di titik E. Empty.


Pokoknya ente harus lakuin itu. Ini kesempatan jarang. Ke Bogor pun ane anter. Kalau ente sampai ga lakuin, ganti nih duit bensin,” gurau teman saya mengancam sehabis mengeluarkan dua lembar ratus ribuan di sebuah pom bensin yang letaknya dekat dengan bilangan Ps. Minggu. Ya, saya ke Jakarta menumpang. Betul-betul baik kawan saya itu. Sudah ditumpangi, mau mengantar ke Bogor pula.


Al, gw udh di jln nech. Janji yah gw plgin jgn mlm2.awas loh..


nyawa gw taruhannya,” balas saya


Ba’da Maghrib. Untuk menemukan tempat parkir teman teman saya sampai harus memutar mobil tiga kali, sekali keluar UI lalu masuk lagi. Bahu jalan sudah penuh dan kami menemukan sebuah tempat lowong di boulevard, empat ratus meter dari gerbang, sekitar satu kilometer dari Fakultas Ekonomi.


Al beli ponstan”, “Al beli aqua jg.cptn udah skt gi9i bech...oia permen jg soalnya gw takut minum obat sndrian.he2 maap ia kebnykn ia he2


Saya masuk ke alfamart, beli sebungkus Djarum Super, sebotol aqua, dan sebotol nuGrentea. “Ada ponstan, mbak?” saya harap-harap cemas. Nihil. Lucu juga ada alfamart di dalam kampus, di Unpad ini tidak (mungkin juga belum) terjadi. Komersialisasi Kampus belum separah Jakarta dimana setiap hal diukur dengan lembar-lembar uang. Bagus, berarti pedagang-pedagang kecil itu masih bisa tetap hidup.


Seorang wanita dengan kaus oblong dan celana jeans berdiri di atas meja yang terletak di tengah-tengah area ticket box. “Tiket sold out,” ulangnya beberapa kali. Gimana ya, kacau ini, ketahuan sudah bohong saya. Tidak ada tiket dan ponstan, saya harus ngomong apa nanti.


Sekitar sejam menunggu sambil duduk-duduk dan foto-foto, akhirnya kesepakatan dicapai. Tiket Cuma ada satu. Teman lelaki saya menggunakan tiket bekas, saya pakai tiket asli, dan teman saya yang perempuan sudah punya cap di lengannya hasil dari menempelkan cap yang masih basah dari adik kelasnya. Strategi berhasil.


Kami bertiga berpisah di dalam. Teman lelaki saya langsung menuju main stage bersama dua orang lainnya, sementara saya dan teman perempuan saya berdua saja. Jitu.


JGTC dua tahun lalu tidak seramai kali ini. Sebuah neon box besar bertuliskan Three Decades of Jazz Goes to Campus; Celebration of Inspiration terpampang di dekat bunderan FE yang ramai oleh pengunjung yang duduk-duduk sambil mengobrol. Di tengah bunderan, lampu kelap-kelip diuntai seperti membuat rangka payung, mengelilingi sebuah tiang tempat lampu warna-warni berbentuk huruf J-G-T-C dipasang vertikal. Pawang hujan tampaknya sukses karena hujan tak menambah semarak acara hingga penampil terakhir menyelesaikan lagunya di pangung.


Laper ni, cari makan dulu ya,” perut teman saya merajuk rupanya. Sepuluh meter dari bunderan, stand makanan berjejer. “Jangan pancake, nggak kenyang. Gw laper banget nih,” silahkan saja nona, malam ini semua mau Anda saya turuti.


Gw gak makan, kopi aja,” ujar saya sambil memesan segelas nesface panas yang dijual di sebelah stand tempat teman saya memesan. “Gua mau milo kaleng,” pinta teman saya sambil memesan makanan di stand samping. Saya keluarkan selembar dua puluh ribuan dari saku kanan dan membayarnya. Lima puluh ribuan terakhir saya ditepisnya, dia yang membayar untuk dua porsi makanan yang terlalu mahal dihargai Rp.26 ribu.


Umur berapa lu mau nikah?” teman saya membuka pembicaraan sambil menyuap sendok kesekian melewati bibir merah jambunya. Saya keget namun mencoba tersenyum. Seperti berkah yang datangnya terlalu cepat, berkah yang jadi bencana.


Hmmm, nggak tau. Gw gak suka menargetkan hidup. Selama gw senang hari ini, hari besok gak dipikirin. Cukup. Gw lebih senang begini, hidup bebas dari target,” sebisa mungkin saya cari kalimat yang pas sambil pikiran saya menerka apa yang ada di balik pertanyaan tersebut. Suara penampil dari main stage terdengar, “lagu berikutnya tentang seorang pria yang setia dengan janjinya”.


Aduh, dia tanya soal hubungan. Tanya saya sejarah pers Indonesia, kita bisa semalaman membicarakannya, tapi jangan soal hubungan karena saya belum punya jawabannya. Saya tak berminat membahasnya denganmu, nona. Dan kamu, pasti tak berminat membahas beberapa kesalahan Pramoedya mengurai sejarah Tirto Adhisoerjo dalam tetraloginya. Yah, kita memang berbeda. Kupikir, aku yang selalu mencoba menyesuaikan diri denganmu meski ketakutan itu terus menetak. Kenapa kau gerus keindahan malam ini dengan pertanyaan macam itu.


Sudahlah, bung, jangan dibiarkan terus gelisah itu berkecamuk, nikmati saja malam ini. Huff, untungnya dia tak tahu probbing dan tak memberondong saya dengan dengan pertanyaan lanjutan.


Setengah sebelas malam, mobil menyusuri aspal basah tol Jagorawi yang terus didera hujan. Setengah jam berikutnya mobil menyusuri jalan-jalan kecil di sebuah kompleks perumahan elite Bogor. Saya masih hapal jalan tikus disini meski sudah setahun lebih tak melewatinya.


Kompleks elite nih. Orang-orang kaya Bogor tinggal disini. Cuma ada tiga kompleks perumahan elit di tengah kota Bogor: ini, daerah Dadali, sama Taman Kencana. Ki Gendeng Pamungkas tinggal di daerah sini,” tukas saya pada teman lelaki yang sedang memegang kemudi.


Apaan sih lu. Biasa aja kali, lu selalu gitu,al. Pehitungan sama gw,” teman perempuan saya yang duduk di jok belakang langsung emosi dibilang tinggal di kompleks perumahan elite. Dia memukul-mukul tubuh dan kepala saya yang duduk persis di depannya.


Buat nelpon Dewi bisa, ko gw nggak? Sakit hati gw,” saya tak bisa melihat ekspresinya ketika bicara seperti itu. Saya tak tahu teman perempuan saya itu serius atau tidak.


Saya ingin mejawabnya ketika kita berpisah di pagar rumahmu, tapi tak tahu harus dengan kalimat seperti apa. Pun bapak-bapak itu, yang nongkrong-nongkrong di depan pagar rumahmu, kehadirannya betul-betul menganggu saya.


“Gimana nyong?” teman lelaki saya rupanya sudah tak sabar mendengar kalimat yang saya katakan waktu mengantar teman perempuan saya masuk ke rumah.


“Dia nanya gw balik ke Bogor ngak Minggu depan, pengen ngajak jalan lagi. Gw bilang ‘iya’. Ketemu lagi minggu depan. Masih memesona dia,” jawab saya seadanya.


U make a dark nite so wonderful, thx..hehe. Jgn mrah yak, tdi gw boong udh pnya tiket spaya lu mw dtg,” saya kirim pesan singkat sebagai tanda terima kasih kepada perempuan itu.


Saya khusyuk di depan komputer. Main Football Manager 2008 sambil mendengarkan mp3 dari Winamp. Cinta Sudah Lewat-nya Kahitna dapat bagian bersenandung beberapa saat setelah Kencan Pertama dan Jikalau-nya Naif. Dia dan janji itu masih membayang meski pertemuan itu sudah lewat seminggu. Saya tak menepati janji yang diucap seminggu lalu.


Berikan aku senyuman satu malam saja, jangan kau tawarkan sebuah hubungan, nona,” saya ingin jujur padanya. Kalimat itu ingin saya bisikkan ke telinganya yang berpahat giwang bundar biru muda malam itu. Andai, andai saja malam itu kau mencecar terus, kukeluarkan kalimat pamungkas itu.


Jatinangor, 4 Desember 2007

Sabtu, 27 Oktober 2007

Dua Pagi dalam Satu Musim

Pagi Musim Hujan

Sebab Matahari lebih mudah disalahpahami
Dan awan pekat berbaris, lagi
Pagi, aku suka terlelap saja

Cikeruh, 18 Okt 2007

Pagi (Kedua) Musim Hujan

Sebab hujan tak menyisakan embun
Jemari kutunda sampai kemarau, waktu hangat sepagi
Waktu dingin menyisakan bulir kecil di sekitaran,
dan di daun pipimu
Cerah langit menguning
Kuseka wajahmu, merah jambu tersipu

19-20 Oktober 2007

Sabtu, 13 Oktober 2007

Lebaran dan Takbiran, Pepesan Kosong

Terang matari di langit berganti gemerlap kembang api. Awalnya mirip suara sirene, disusul bunyi serupa daun kering terbakar ketika garis api berhambur jadi gurat warna merah, emas, dan biru membentuk lingkaran indah. Di bawah, Kraton Yogya menua termanggu. Alun-alun bingar melebihi siang hari.

Jalan raya yang mengelilingi alun-alun sesak kendaraan dan parade. Berjejer para penampil bergantian menghibur. Barisan depan selalu membawa spanduk panjang bertuliskan daerah asal. Kauman, Sayidan, dan banyak sesudahnya. Penggebuk drum dan paduan suara dengan bendera warna-warni di barisan kedua, kompak bershalawat keras. "Lebih sepi dari tahu kemaren," pak Polisi menimpali pertanyaan saya. Sebagai penutup pemuda membawa rangka masjid atau Al-Quran sebesar badan manusia. Tak kurang meriah ornamen itu dilengkapi dengan cahaya lampu. Generator dibawa serta untuk sumber tenaga. Jangan luput keramaian dari rekaman lensa kamera, cuma setahun sekali.

Handphone dibanjiri pesan singkat. Ah, semuanya serupa walau tak sama. Seperti ini setiap tahun, maaf, maaf, dan maaf. Pun begitu harus dibalas, tak enak rasanya kalau tidak. Tetap saja pertanyaan timbul, apakah harus meminta maaf kalau bertahun sudah tak bertemu?? Wajahmu saja saya sudah lupa.

Beringsut pulang setelah kamera mati dengan hati menggerundel karena kelupaan membawa baterai cadangan. Besok Lebaran, harus tidur segera, supaya esok ibu tak marah-marah membangunkan saya.
Dari kejauhan takbir sudah mulai terdengar lamat. Baru pukul setengah enam. Pesan singkat terus-terusan masuk. Kesal hati mendapati sms aneh. Masak dikirimi pesan dalam bahasa Prancis, satu kalimatpun saya tak bisa mengartikan. Apa-apaan ini manusia, dua orang pula, dengan pesan yang sama persis. Dipikirnya keren pake bahasa asing, mana sampai apa yang kau maksud?? Sakit jiwa, mereka! Tapi tetap saya balas, tak enak. Kacau begitupun tetap kolega.

Selanjutnya seperti biasa. Beli kembang untuk makam kakek, sholat Ied, ziarah, dan acara sungkeman. Ditutup dengan bagi-bagi THR. Setelah rangkaian acara selesai, saya tinggal tidur keramaian tamu yang datang berkunjung.

Pesan-pesan singkat yang baru didapati ketika bangun tidur. Bahasa Inggris masih saya maklumi, begitupun yang sok berpantun. Pusing benar mereka merangkai kalimat agar indah dibaca. Sekali setahun ini, lebaran saja.

Malam mulai lagi. Tertatih-tatih saya mendaras Jejak Langkah Pram. Bising kembang api dan parade terdengar dari kejauhan, sungguh menganggu konsentrasi. Pesan masuk lagi, senang hati kali ini. Ada juga yang mulai merasakan keanehan rituak menahun Takbiran dan Lebaran. Berbalas terus pembicaraan mengenai kenaehan di sekitar Idul Fitri. Saya akhiri karena teman tersebut mau lebaran nanti pagi, dan dia harus tidur karena sudah hampir jam tiga. "Tidurlah, Jangan lupa berdoa lebaran tahun ini dapat makna baru. Bukan sekedar pepesan kosong ritual tahunan," tombol send langsung dipencet.
"Setelah qt puas makan, apa kabar ya jutaan manusia yg mungkin hingga saat ini ksulitan makan?Dr td sy mnrima banyak sms minta maaf, tp knp qt msh bs mkn tnp mrasa bersalah?" Hufff, satu lagi pesan singkat menggugat, dari perempuan berjilbab pula.
Yogya, lebaran ke-2