Sabtu, 27 Oktober 2007

Dua Pagi dalam Satu Musim

Pagi Musim Hujan

Sebab Matahari lebih mudah disalahpahami
Dan awan pekat berbaris, lagi
Pagi, aku suka terlelap saja

Cikeruh, 18 Okt 2007

Pagi (Kedua) Musim Hujan

Sebab hujan tak menyisakan embun
Jemari kutunda sampai kemarau, waktu hangat sepagi
Waktu dingin menyisakan bulir kecil di sekitaran,
dan di daun pipimu
Cerah langit menguning
Kuseka wajahmu, merah jambu tersipu

19-20 Oktober 2007

Sabtu, 13 Oktober 2007

Lebaran dan Takbiran, Pepesan Kosong

Terang matari di langit berganti gemerlap kembang api. Awalnya mirip suara sirene, disusul bunyi serupa daun kering terbakar ketika garis api berhambur jadi gurat warna merah, emas, dan biru membentuk lingkaran indah. Di bawah, Kraton Yogya menua termanggu. Alun-alun bingar melebihi siang hari.

Jalan raya yang mengelilingi alun-alun sesak kendaraan dan parade. Berjejer para penampil bergantian menghibur. Barisan depan selalu membawa spanduk panjang bertuliskan daerah asal. Kauman, Sayidan, dan banyak sesudahnya. Penggebuk drum dan paduan suara dengan bendera warna-warni di barisan kedua, kompak bershalawat keras. "Lebih sepi dari tahu kemaren," pak Polisi menimpali pertanyaan saya. Sebagai penutup pemuda membawa rangka masjid atau Al-Quran sebesar badan manusia. Tak kurang meriah ornamen itu dilengkapi dengan cahaya lampu. Generator dibawa serta untuk sumber tenaga. Jangan luput keramaian dari rekaman lensa kamera, cuma setahun sekali.

Handphone dibanjiri pesan singkat. Ah, semuanya serupa walau tak sama. Seperti ini setiap tahun, maaf, maaf, dan maaf. Pun begitu harus dibalas, tak enak rasanya kalau tidak. Tetap saja pertanyaan timbul, apakah harus meminta maaf kalau bertahun sudah tak bertemu?? Wajahmu saja saya sudah lupa.

Beringsut pulang setelah kamera mati dengan hati menggerundel karena kelupaan membawa baterai cadangan. Besok Lebaran, harus tidur segera, supaya esok ibu tak marah-marah membangunkan saya.
Dari kejauhan takbir sudah mulai terdengar lamat. Baru pukul setengah enam. Pesan singkat terus-terusan masuk. Kesal hati mendapati sms aneh. Masak dikirimi pesan dalam bahasa Prancis, satu kalimatpun saya tak bisa mengartikan. Apa-apaan ini manusia, dua orang pula, dengan pesan yang sama persis. Dipikirnya keren pake bahasa asing, mana sampai apa yang kau maksud?? Sakit jiwa, mereka! Tapi tetap saya balas, tak enak. Kacau begitupun tetap kolega.

Selanjutnya seperti biasa. Beli kembang untuk makam kakek, sholat Ied, ziarah, dan acara sungkeman. Ditutup dengan bagi-bagi THR. Setelah rangkaian acara selesai, saya tinggal tidur keramaian tamu yang datang berkunjung.

Pesan-pesan singkat yang baru didapati ketika bangun tidur. Bahasa Inggris masih saya maklumi, begitupun yang sok berpantun. Pusing benar mereka merangkai kalimat agar indah dibaca. Sekali setahun ini, lebaran saja.

Malam mulai lagi. Tertatih-tatih saya mendaras Jejak Langkah Pram. Bising kembang api dan parade terdengar dari kejauhan, sungguh menganggu konsentrasi. Pesan masuk lagi, senang hati kali ini. Ada juga yang mulai merasakan keanehan rituak menahun Takbiran dan Lebaran. Berbalas terus pembicaraan mengenai kenaehan di sekitar Idul Fitri. Saya akhiri karena teman tersebut mau lebaran nanti pagi, dan dia harus tidur karena sudah hampir jam tiga. "Tidurlah, Jangan lupa berdoa lebaran tahun ini dapat makna baru. Bukan sekedar pepesan kosong ritual tahunan," tombol send langsung dipencet.
"Setelah qt puas makan, apa kabar ya jutaan manusia yg mungkin hingga saat ini ksulitan makan?Dr td sy mnrima banyak sms minta maaf, tp knp qt msh bs mkn tnp mrasa bersalah?" Hufff, satu lagi pesan singkat menggugat, dari perempuan berjilbab pula.
Yogya, lebaran ke-2

Senin, 08 Oktober 2007

A***ng

Absurditas. Tak disisakannya lagi sejengkal saja lahan, pun untuk bertanya SIAPA DIRIMU WAHAI ABSURDITAS. LAJUR HIDUP SUDAH TERLALU SEMPIT, TERLALU MISKIN KEINDAHAN, TERLALU TERGESA UNTUK SEBUAH PEMBUKTIAN. AKU, TERTINGGAL DI BELAKANG

PS: A***ng, gw juga ge ngerti kenapa kalimat-kalimat itu yang meluncur. Gara2 sunny yang lagi mengalun, mungkin..hehe

Yogyakarta 08 Okt 07

Selasa, 02 Oktober 2007

Berapa Duit Saya Bisa Beli Kecantikan Nona??

Filosofi New Age, yang bentuknya bisa kita lihat sekarang melalui praktek ESQ, percaya bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Saya menganggap hal itu ada benarnya, tapi tidak banyak. Sejauh ini pengetahuan dan pengalaman yang membuat saya beranggapan: manusia dibentuk oleh kondisi sosial tempat dia hidup. Penjelasannya, meskipun tak terlalu jelas, sudah ditulis kemarin-kemarin dalam Hanya Orang Gila Tak Ingin Kaya.

Orang miskin mencuri karena tak ada secuil nasipun yang bisa dia makan hari ini; Mahasiswa mencontek saat ujian karena sistem perkuliahan membuatnya membuang jauh-jauh arti penting proses, tujuannya semata-mata hasil akhir. Sekarang, mari bicara masalah wanita.

Wanita adalah komoditi, barang dagangan. Maaf sekali jika kaum feminis terganggu dengan ini. Sebenarnya ini masih bisa digugat karena berupa asumsi saja. Tapi, setidaknya asumsi ini ada landasannya.

Mari kita buka lembar-lembar majalah remaja wanita. Dengan mudah bisa ditemukan cara tampil cantik dan menawan. Semuanya pake duit, sekali lagi duit. Pemutih kulit, pemulas bibir, pewangi badan, penghitam rambut, dan pakaian yang manis untuk membungkus tubuh aduhai. Semuanya dibeli satu saja tujuannya: menaikkan harga di pasaran.

Semakin banyak uang dikonsumsi untuk menghasilkan suatu barang, semakin tinggi harga. Itu logika ekonomi. Logika ekonomi juga menjelaskan semakin banyak penawaran semakin tinggi harga. Satu hal lagi yang memengaruhi harga adalah hubungannya dengan barang dagangan lain yang serupa. Berarti, dalam kasus ini wanita satu dengan wanita lainnya.

Bagaimana ‘menilai’ harga seorang wanita? Di majalah gaul kampus FIKOM ada rubrik profil. Di box kecilnya Anda bisa lihat track record pacaran. Semakin sering gonta-ganti pacar berarti semakin tinggi harganya. Wanita yang sudah dua belas kali pacaran, harganya lebih tinggi dibandingkan yang baru dua kali pacaran.

Itu satu sisi saja. Kenyataan lain mengatakan, ada juga wanita mahal yang track recordnya tak semanis parasnya. Bukan para lelaki yang buta mata, namun belum ada tawaran yang sesuai. Harga yang diajukan terlalu rendah, bisa rugi kalau begitu. Jenis ini cenderung menunggu tawaran dengan harga yang sesuai.

Menunggu bukannya diam. Sambil terus tebar pesona pada para ‘penawar’ yang belum berani mengajukan harga, mereka berusaha memertahankan penawar-penawar sebelumnya. Bahasa anak gaul menyebut sikap itu ‘tak mau kehilangan fans’.

Dari tadi saya mencoba menyamakan wanita dengan barang dagangan. Sebenarnya, dua hal itu berbeda. Kesadaran membuatnya tak sama. Wanita punya kesadaran yang punya dua wajah berbeda: ingin tampil seperti Laudya Chintya Bela yang rajin ke salon dan beli baju di butik sehingga bisa diperdagangkan di Sinetron atau gadis biasa yang eksotis dan tak mau disamakan dengan barang dagangan. Beberapa sadar dan tahu betapa hinanya berakhir seperti beras yang tak laku dan dibuang ke Samudra luas. Mereka ‘tak mau kehilangan fans’ seperti Eva Arnas yang lapuk dimakan ketuaan.

Inilah perdagangan semu yang tidak kita sadari. Penampakannya halus, tak seperti perdagangan wanita untuk dijadikan pelacur. Dalam kasus ini bukan germo yang bersalah, tapi mereka sendiri. Merekalah yang menjadikannya tak lebih seperti beras tak laku yang layak dibuang ke Samudra luas.

Hehehe, maaf ya mba, mpok, neng, non khususnya para pembela harkat dan martabat wanita (maksud saya perempuan, karena banyak yang tak suka disebut wanita)...sekedar urun-rembug saja. Jangan gusar, pria pun banyak yang menjadikan dirinya barang dagangan.

PS: sebenarnya keinginan menulis komodifikasi wanita sudah ada sejak lama. Tapi, keran pemahaman belum juga terbuka. Sore ini, dalam himpitan kekecewaan saya mendengar rekaman diskusi Herry Priyono, aliran amarah mampu juga menjebol keran itu...hahaha

Cikeruh, 2 Oktober 2007

(Banyak) Serapah dan (Sedikit) Doa Buat Pembual

Kemarin dulu sudah ditulis bagaimana semangat zaman merasuki saya dalam tulisan Hanya Orang Gila Tak Ingin Kaya. Kalau begini terus keadaanya, mengutip tulisan tersebut “dua puluh tahun lagi kata ‘tulus’ pasti terhapus dari kamus bahasa”. Sekarang ditemukan lagi sebuah kata yang dirasa akan hilang juga, yakni kejujuran.

Ini juga sudah merasuki kita semua, tak terkecuali saya. Kejujuran semakin surut saja. Semester tiga saya “menulis ada hal yang kadangkala perlu kita lebihkan, kurangkan, manipulasi, semuanya demi kenyamanan, kelangsungan hidup kita”. Sekarang ini orang berbohong untuk bertahan hidup. Kepalsuan sudah merasuk sampai tulang sumsum! Sialan!

Yang terberat tentunya jujur pada diri sendiri. Kalau ini saja tak bisa dilakukan, maka rasa bersalah dan kegalauan tak mau lepas menyelimuti sudut-sudut hidup kita. Pertama sekali dia bersalah pada dirinya, dan lalu pada orang lain.

Mereka yang berbohong memertahankan tetek-bengek remeh akan digilas roda sejarah. Akan membusuk dan menimbulkan bau tak sedap buat hidung orang-orang di sekitarnya. Runtuh sudah harga dirinya tak bersisa.

Mata saya tak bisa lagi mencerap keindahannya; hidung saya tak mendengus lagi harum namanya. Tak sanggup, kebusukan tak sanggup lagi ditutupi. Selesai sudah, stop sampai disini saja! Kau telan bulat-bulat buah yang kau tanam dari ladang kebohongan!!!

Tapi, jujur saja saya tak sepenuhnya kecewa dibohongi. Enam puluh persen saya terpukul jika. Sisa empat puluh persennya harapan agar kau tidak berbohong untuk memertahankan hal-hal yang sekedar recehan saja dalam hidup. Mudah-mudahan...

PS: Nona Feurbach rela menelan bulat-bulat sepahit apapun kebohongan daripada dibohongi, sungguh luar biasa. Perbincangan kita malam itu bukan karena saya takut menatap wajah kebenaran, sebab Rasullullah pun mewajibkan umatnya bicara benar, sepahit apapun itu! Cuma mencoba melihat saja sejauh apa berbohong dibenarkan...hehe.

Cikeruh, 1 Oktober 2007
Amarah Mendera