Pembicaraan biasanya tak jauh-jauh soal keuangan. Uang bulanan habis sebelum waktunya, atau fotokopi dan tugas ini-itu butuh dana. Hubungan saya dan bapak memang tak terlalu baik. Setidaknya jika seringnya komunikasi dijadikan ukuran. Mungkin gengsi seorang lelaki yang membuat saya mencoba menghindari pembicaraan dengannya. Penyebab lainnya, bapak orang yang terlalu serius dan kaku menghadapi hidup. Begitupun kalau beliau bicara, penuh tetirah mengenai cara hidup sukses. Beda dengan saya yang lebih sering bermain-main dengan pilihan dan tak begitu suka dengan ukuran ‘sukses’ bapak.
Tapi, kemarin dulu tulisan untuk ibu sudah dibuat. Diposting di blog baru beberapa bulan kemudian karena isinya terlalu sentiimentil. Rasanya tak adil kalau bapak tak ditulis juga.
Banyak orang yang sudah kenal bapak sejak masa muda, bilang kami berdua punya muka serupa. Saya tak pernah percaya sampai suatu ketika membuktikannya sendiri. Sebuah ijazah SMA dengan pas foto hitam-putih di pojok kanan bawah, diperlihatkan pada saya. Ternyata betul yang dikata orang.
Wajah kami memang mirip, tidak begitu dengan sifat dan perilaku. Bapak anak baik yang jarang, atau bahkan tak pernah, berbuat onar. Tak pernah saya dengar cerita macam begitu, dari mulutnya atau dari mulut orang lain. Kalau orang cerita, bapak jadi sosok anak muda yang ideal di mata mereka. Dia anti kenakalan remaja.
Masa mudanya dihabiskan dengan belajar dan bekerja. Dua itu saja. Hidup tanpa ayah membuatnya jadi seorang remaja pekerja keras. Mulai bengkel motor sampai dagang asongan. Sampai sekarang berbagai keahlian masa muda itu, beliau belum lupa. Mengecat rumah, memerbaiki instalasi listrik, mengencangkan rantai motor yang kendur, dikerjakan sendiri kalau ada waktu luang. Kalau saya sedang di rumah, diajarkannya keahlian-keahlian itu supaya pekerjaan bisa dilimpahkan.
Bapak tak begitu pandai. Nilai ijazah SMA-nya tak menonjol. Isinya Cuma angka enam dan tujuh. Jurusan Kimia Universitas Gajah Mada dipilihnya untuk melanjutkan studi. Lulus delapan tahun!
Beliau lalu cari kerja. Impiannya: TELKOM. Teman seperjuangannya diterima, dia tidak. Melanglangbuana sampai terdampar di sebuah perusahaan Korea. Gajinya boleh dibilang tinggi untuk ukuran tahun 80-an. Dia memilih keluar kemudian. Bukan lantaran tak puas dengan gaji, tapi karena emoh jadi kacung orang asing. Sempat ditawar mengajar kimia di SMA Al-Azhar pusat. Dia tolak lagi. “Ngajar anak SMA ngak berkembang ilmunya,” begitu kilahnya.
Pemberhentian terakhir di sebuah akademi kimia yang berlindung di bawah Departemen Perdagangan dan Perindustrian. Letaknya di Bogor. Bapak jadi dosen, sampai sekarang dengan upah tak seberapa besar. Konon hanya berbeda beberapa ratus ribu saja dengan saudara-saudara saya yang jadi guru SD di Jakarta. Saya tak pernah mengeceknya meskipun memerlihatkan slip gaji itu kebiasaan di keluarga saya. Dulu, buat saya pilihan-pilihan yang bapak buat mengenai pekerjaan terdengar aneh. Sekarang saya maklum. Dalam kasus ini, Bapak termasuk orang yang mengajari saya bersikap.
Universitas Indonesia, almameter Bapak yang kedua. Mendalami Kimia Anorganik (sampai sekarang saya tak tahu betul apa yang dipelajarinya). Saya sudah lahir dan baru berumur beberapa tahun ketika itu. Walau sudah kerja, nampaknya keuangan keluarga banyak dibebani dengan studi Bapak. “Dosen pembimbing sampai kasih uang buat ongkos pulang sehabis sidang tesis di Salemba,” ratapnya.
Umur Bapak sekarang sudah kepala lima. Tiga anaknya masih kuliah dan satu masih SD, makanya beliau masih harus bekerja keras dari satu kampus ke kampus lain. Hari Minggu pun tak luput dari mengajar. Motor bebek tahun 96 jadi teman setianya.
Waktu luang dia pakai main Badminton. Seminggu bisa sampai tiga kali. Kalau sore hari ada di rumah, biasanya sibuk merawat tanaman. Dia suka bungga anggrek. Anggrek pertamanya mati di tangan saya—karena tak dirawat meskipun sudah dititipkan—ketika beliau pergi Haji.
Bapak punya harapan besar untuk anak lelaki pertamanya, saya. Dia tampak girang sore itu, saya bilang “mau jadi Dosen, seperti Bapak”.
Cikeruh, 26 September 2007
Sabtu, 29 September 2007
Sabtu, 01 September 2007
Kibur Kecil Kaum Kusam
Semakin sulit sekarang menemukan ruang publik untuk berlibur. Taman-taman indah dengan air mancur di tengahnya Cuma bisa dipandang dari balik pagar besi, tidak untuk dimasuki. Wisata mata.
Di Bandung masih ada beberapa taman rindang yang bebas akses. Taman Lansia atau taman dekat Jonas misalnya. Kita bisa menikmati tumpukan sampah sambil menggelar tikar dan membuka rantang makanan, lalu menikmatinya bersama kawan atau keluarga. Gratis tanpa tiket masuk.
Kalau berkunjung ke Yogya, sempatkan menikmati malam Anda di trotoar depan benteng Vrederburg atau Istana Presiden. Gratis juga. Keramahan akan menyapa. Ramai pengamen dan pedagang sore mengaso sehabis kerja. Ngobrol dengan mereka, saya pastikan Anda akan tahu bagaimana cara hidup di jalanan. Ini kegiatan favorit saya.
Kalau lapar dan ingin merokok ada angkringan dan pedagang asongan berjejer. Biarkan hidung Anda menghirup aroma alkohol yang keluar dari mulut jembel-jembel. Kalau beruntung kita bisa menikmati tontonan gratis. Para pemabuk sedang berkelahi dengan kayu atau sabuk pinggang. Sirene lalu berdengung, polisi menghentikan perkelahian.
Lampu taman padam pukul satu. Keramaian segera menyusut berganti manusia yang tidur di penjuru-penjuru taman, beralaskan kardus berselimut spanduk hasil maling. Habis waktu kita, mari langkahkan kaki pulang ke rumah.
Jangan takut liburan belum usai. Masih ada agenda terakhir. Menonton acara televisi akhir pekan. Ada liputan jalan-jalan dari Bali, Lombok, Sumatra, dan berbagai penjuru Indonesia. Kadang dari luar negeri pula. Lapar? Santai saja sebentar lagi acara kuliner. Menunya beragam dari makanan tradisional sampai a la bule. Tak perlu susah mulut anda mencicip asam-manis coto makasar atau spagheti. Tutup saja mata Anda lalu dengarkan pendapat pembawa acara. Mak nyusss….
Jatinangor, 25 Agustus 2007
Amor Fati, Malam Hamil Tua
Asbak sudah penuh terisi. Malam hamil tua. Nanti suara sang muadzin menyambut surya yang menggeliat keluar dari kegelapan rahim. Saya diam, lalu mengetik. Diam lagi. Membaca, mengetik, dan kembali diam. Selalu seperti itu, malam ke malam. Hanya malam yang sanggup.
Empat lebih lima belas. Persalinan segera dimulai. Malam kehabisan daya dan saya tak ingin melihat kelahiran hari dengan mata yang masih nyalang. Selimut ditarik. Selamat tinggal malam. Kutinggalkan kau dengan kepala tertunduk. Mata menutup.
Bukankah kelahiran itu menyakitkan? Butuh tenaga dan keberanian untuk menerima sesuatu yang baru, begitu?
Malam, jangan kau tebus pagi dengan nyawamu. Tak sanggup kau penuhi pintaku? Biarlah sekedar mata diselimuti gelapmu saja, dalam tidur pulas.
Dan matahari merangkak lamat. Mengambil nyawa embun tetes demi tetes. Pagi bersabda, “cintailah keutuhan, nasibmu. Jadilah penuh dengan berdamai dengan nasib. Lampaui siang-malam, gelap-terang, keruh-bening, sulit-senang, hitam-putih. Buka lebar-lebar tangamu menyambut pagi yang baru. Jangan kau larut dalam malam, usah pula tinggalkan dia”.
21 Agutus 2007
Minggu, 19 Agustus 2007
Hanya Orang Gila Tak Ingin Kaya
Kau tak ingin kaya? Darimana asal pikiran sinting macam itu. Baiklah, teman saya seorang psikiater handal, mungkin beliau bisa membantumu. Ahh, maaf kalau terlalu kasar. Tapi saya kira semacam gangguan jiwa sangat mungkin menimpamu. Psikiater itu pasti bisa menamai penyakit ini.
Ada baiknya buku-buku sejarah itu kausingkirkan. Mereka membawamu pada romantisme. Keindahan komunalisme cuma ada dalam temuan ilmu sosial. Individualisme itu tiang yang sekarang menancap kukuh ke jantung keseharian. Kau lihat cakrawala zaman kita dibentuk gurat-gurat persaingan. Oww, aku tahu pasti ini semacam kepengecutan. Kau takut kekalahanlah yang menutup lembar perjuanganmu, begitu bukan? Pasti, pasti itu!
Aduh, maaf sekali lagi. Kelabu gusar begitu ganas menyelubungi, makanya bicaraku jadi pekat begini. Aku tak bisa lagi melihat dirimu secara jelas. Jangan pula kau balas nasihatku ini dengan raut sedih macam begitu. Mataku tak sanggup menatap kekalahan yang begitu besar. Muram durja itu milik filsuf miskin yang tak punya apa-apa selain kegalauan. Hal yang bahkan tak mengusir lapar walau sedetik saja.
Keinginanmu tulus dari dalam hati, aku tahu itu. Kelak kau tahu ketulusan tak memberimu sekeping uangpun. Sekarang cuma segelintir orang gila saja yang masih memilikinya, dua puluh tahun lagi kata ‘tulus’ pasti terhapus dari kamus bahasa.
Lihatlah, di jalan besar sana karnaval knalpot begitu bingar, muntahan asap jadi latarnya. Di sisi mereka, tepat di atas trotoar, berjalan manusia-manusia lain menghirup cuma-cuma gas karbon monoksida. Jantung mereka dirusak oleh orang lain! Itulah takdir zaman kita. Kemiskinan dan kelemahan sepaket dengan ketidakmujuran dan penghisapan. Kau mau diperlakukan seperti itu?
Lihatlah, tetanggamu itu, si Tuan Besar, mobilnya berjejer indah di garasi. Naik haji sudah berkali-kali, macam pergi ke Dufan saja. Tiap lebaran jembel-jembel berbaris di depan pagar rumah, saling sikut malah, menunggu lembaran sepuluh ribuan dibagikan. Cuma recehan uang segitu buat dia. Menabung pahala untuk akhirat. Dihargai orang sekitarnya, tak berani kepala ditegakkan jika berpapasan.
Tanahnya di desa puluhan hektar. Beli murah dari petani ketika ekonomi jatuh lalu bangun pabrik tekstil. Petani desa tak punya lahan. Sekarang anak pemudanya jadi buruh tanpa perlu pindah ke kota. Kalau upah kurang tinggal minta pinjaman berbunga ke bank Tuan Besar. Kau harus begitu jika ingin sukses, tajam sorot mata kalau lihat peluang.
? ? ? ? ?
Siang itu gelisah datang. Tanpa ampun meghujamkan lusinan pertanyaan. Gontai dibuatnya. Hei, aku ingat kau, yang membalas ajakan kakak sepupumu ikut MLM dengan pernyataan “saya tak ingin kaya”. Kau juga yang melihat debu-debu kemiskinan menempel di dinding-dinding orang desa, betul kan? Itu ada lagi kawan lainnya yang cuma ingin punya rumah di desa. Kita bertukar harapan. Mengutip berulang Gorky “orang gila tak mau mengakui dirinya gila”.
Sederhana betul hasrat kalau tak diturut. Memberi sesuai kemampuan dan menerima sesuai kebutuhan. Membaca, menulis, dan menyebarkan kita punya gelisah. Cukup segitu? Apa itu kegilaan? Nyatanya, memang dianggap begitu. Mari kita lihat, disana Aa Gym berdakwah: “orang Islam jangan ingin kaya, tapi harus kaya”. Indah betul ucapannya, seperti monster yang menghantui ketenangan manusia. Semua berlomba. Mari, mari kumpulkan terus pundi-pundi emas itu. Janganlah hidup tenang sebelum kekayaan menghampiri kalian!
Jatinangor, 25 Juli 2007
Untuk mereka yang mengajari saya hidup sederhana
Ada baiknya buku-buku sejarah itu kausingkirkan. Mereka membawamu pada romantisme. Keindahan komunalisme cuma ada dalam temuan ilmu sosial. Individualisme itu tiang yang sekarang menancap kukuh ke jantung keseharian. Kau lihat cakrawala zaman kita dibentuk gurat-gurat persaingan. Oww, aku tahu pasti ini semacam kepengecutan. Kau takut kekalahanlah yang menutup lembar perjuanganmu, begitu bukan? Pasti, pasti itu!
Aduh, maaf sekali lagi. Kelabu gusar begitu ganas menyelubungi, makanya bicaraku jadi pekat begini. Aku tak bisa lagi melihat dirimu secara jelas. Jangan pula kau balas nasihatku ini dengan raut sedih macam begitu. Mataku tak sanggup menatap kekalahan yang begitu besar. Muram durja itu milik filsuf miskin yang tak punya apa-apa selain kegalauan. Hal yang bahkan tak mengusir lapar walau sedetik saja.
Keinginanmu tulus dari dalam hati, aku tahu itu. Kelak kau tahu ketulusan tak memberimu sekeping uangpun. Sekarang cuma segelintir orang gila saja yang masih memilikinya, dua puluh tahun lagi kata ‘tulus’ pasti terhapus dari kamus bahasa.
Lihatlah, di jalan besar sana karnaval knalpot begitu bingar, muntahan asap jadi latarnya. Di sisi mereka, tepat di atas trotoar, berjalan manusia-manusia lain menghirup cuma-cuma gas karbon monoksida. Jantung mereka dirusak oleh orang lain! Itulah takdir zaman kita. Kemiskinan dan kelemahan sepaket dengan ketidakmujuran dan penghisapan. Kau mau diperlakukan seperti itu?
Lihatlah, tetanggamu itu, si Tuan Besar, mobilnya berjejer indah di garasi. Naik haji sudah berkali-kali, macam pergi ke Dufan saja. Tiap lebaran jembel-jembel berbaris di depan pagar rumah, saling sikut malah, menunggu lembaran sepuluh ribuan dibagikan. Cuma recehan uang segitu buat dia. Menabung pahala untuk akhirat. Dihargai orang sekitarnya, tak berani kepala ditegakkan jika berpapasan.
Tanahnya di desa puluhan hektar. Beli murah dari petani ketika ekonomi jatuh lalu bangun pabrik tekstil. Petani desa tak punya lahan. Sekarang anak pemudanya jadi buruh tanpa perlu pindah ke kota. Kalau upah kurang tinggal minta pinjaman berbunga ke bank Tuan Besar. Kau harus begitu jika ingin sukses, tajam sorot mata kalau lihat peluang.
? ? ? ? ?
Siang itu gelisah datang. Tanpa ampun meghujamkan lusinan pertanyaan. Gontai dibuatnya. Hei, aku ingat kau, yang membalas ajakan kakak sepupumu ikut MLM dengan pernyataan “saya tak ingin kaya”. Kau juga yang melihat debu-debu kemiskinan menempel di dinding-dinding orang desa, betul kan? Itu ada lagi kawan lainnya yang cuma ingin punya rumah di desa. Kita bertukar harapan. Mengutip berulang Gorky “orang gila tak mau mengakui dirinya gila”.
Sederhana betul hasrat kalau tak diturut. Memberi sesuai kemampuan dan menerima sesuai kebutuhan. Membaca, menulis, dan menyebarkan kita punya gelisah. Cukup segitu? Apa itu kegilaan? Nyatanya, memang dianggap begitu. Mari kita lihat, disana Aa Gym berdakwah: “orang Islam jangan ingin kaya, tapi harus kaya”. Indah betul ucapannya, seperti monster yang menghantui ketenangan manusia. Semua berlomba. Mari, mari kumpulkan terus pundi-pundi emas itu. Janganlah hidup tenang sebelum kekayaan menghampiri kalian!
Jatinangor, 25 Juli 2007
Untuk mereka yang mengajari saya hidup sederhana
Nona, Masihkah tak Ingin Menikah??
Bukan Assalamualaikum atau selamat sore, namun “aku jatuh cinta dengan Multatuli”. Teriakan Nona Taman Feurbach menggiring burung-burung keheningan yang sedang bercicit merdu pergi seketika. Saya terpukau kaget. Ada apa gerangan?
“Ternyata ada itu cinta seperti dalam bayanganku, dalam tuturan Multatuli,” jelasnya. “Seperti jalinan antara Jenny dan Marx,” tegasnya. Langsung saja nona berceloteh ria seperti biasa.
Mundur ke masa lalu.
“Aku mungkin tak akan menikah,” kalimat itu keluar dari mulut yang mulai menghitam akibat kebiasaan merokok. Dia mencoba menggurat nasib, menghapus ketidakpastian hari depan dengan sebuah ramalan. Sekali dua kali saya anggap angin lalu saja. Dihapusnya keraguan saya dengan terus mengulang kalimat itu tiap kami mengobrol. Dia serius.
Nona ini menganggap sulit sekali menemukan pasangan yang klop. Bukan secara fisik melainkan secara pemikiran. Masa lalunya dengan beberapa pria memberi segudang pengalaman untuk meneguhkan pendapat tersebut. “Aku mungkin tak akan menikah”.
Sampailah pada suatu perjumpaan. Dengan buku Multatuli dan kolom tanya-jawab asuhan Leila CH Budiman rupanya memberi suar cerah.
“Kadar pemahaman Agama yang setingkat diantara dua pasangan menentukan kelanjutan hubungan. Perbedaan Agama bukan masalah lagi,” kutip nona. Saya manggut-manggut entah setuju atau sekedar refleks.
“Nona, masihkah teguh tak ingin menikah?”.
Mari saya putarkan sebuah lagu sebagai persembahan. “Kenapa bercinta jika kesudahannya pasrah. Karena bila dilamun indahnya tak terkata,” nah itu dia Too Phat dan Siti Nurhaliza berkisah.
Bersiaplah. Negasi sejengkal di atas ubun-ubun. Tadinya saya kira tekad nona sudah pasti, ternyata meluruh juga di udara. All that is solid melts into the air, masih ingat dialektika cinta-menyinta kita malam itu?
16 Agustus 2007
setelah kepulangan Nona dari Taman Feurbach
“Ternyata ada itu cinta seperti dalam bayanganku, dalam tuturan Multatuli,” jelasnya. “Seperti jalinan antara Jenny dan Marx,” tegasnya. Langsung saja nona berceloteh ria seperti biasa.
Mundur ke masa lalu.
“Aku mungkin tak akan menikah,” kalimat itu keluar dari mulut yang mulai menghitam akibat kebiasaan merokok. Dia mencoba menggurat nasib, menghapus ketidakpastian hari depan dengan sebuah ramalan. Sekali dua kali saya anggap angin lalu saja. Dihapusnya keraguan saya dengan terus mengulang kalimat itu tiap kami mengobrol. Dia serius.
Nona ini menganggap sulit sekali menemukan pasangan yang klop. Bukan secara fisik melainkan secara pemikiran. Masa lalunya dengan beberapa pria memberi segudang pengalaman untuk meneguhkan pendapat tersebut. “Aku mungkin tak akan menikah”.
Sampailah pada suatu perjumpaan. Dengan buku Multatuli dan kolom tanya-jawab asuhan Leila CH Budiman rupanya memberi suar cerah.
“Kadar pemahaman Agama yang setingkat diantara dua pasangan menentukan kelanjutan hubungan. Perbedaan Agama bukan masalah lagi,” kutip nona. Saya manggut-manggut entah setuju atau sekedar refleks.
“Nona, masihkah teguh tak ingin menikah?”.
Mari saya putarkan sebuah lagu sebagai persembahan. “Kenapa bercinta jika kesudahannya pasrah. Karena bila dilamun indahnya tak terkata,” nah itu dia Too Phat dan Siti Nurhaliza berkisah.
Bersiaplah. Negasi sejengkal di atas ubun-ubun. Tadinya saya kira tekad nona sudah pasti, ternyata meluruh juga di udara. All that is solid melts into the air, masih ingat dialektika cinta-menyinta kita malam itu?
16 Agustus 2007
setelah kepulangan Nona dari Taman Feurbach
Langganan:
Postingan (Atom)